//
you're reading...
Info Bara

Gerakan Islam Dinilai Pembangkit Nasionalisme

JAKARTA — Islam, dalam catatan sejarah, merupakan pembangkit nasionalisme di Indonesia. Atas dasar ini, Dialog Peradaban yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) pimpinan Syahganda Nainggolan, mempersoalkan kembali gerakan Boedi Oetomo sebagai patokan Kebangkitan Nasional.

Dalam dialog tersebut diungkapkan bahwa Sarekat Islam (SI)–peralihan dari Sarekat Dagang Islam–lebih tepat menjadi tolok ukur Kebangkitan Nasional. ”Perlu pelurusan sejarah, dengan kajian akademis yang objektif, mengenai peran Sarekat Dagang Islam,” kata Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Ahmad Suhelmi, sebagai salah satu pembicara, di Jakarta, Kamis (22/5).

Mengutip George Mc Turner Kahin, menurut Suhelmi, Islam telah menjadikan nasionalisme Indonesia menjadi unik jika dibandingkan dengan nasionalisme di belahan dunia lain. Islam pula yang menjadi simbol perlawanan pribumi terhadap kolonialisme Belanda.

Sementara itu, Boedi Oetomo, kata Suhelmi, adalah organisasi yang lebih menunjukkan sifatnya yang ‘Jawa sentris’ daripada watak nasionalistik. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, mengutip tesis Savitri Scherer, menggambarkan bahwa Boedi Oetomo adalah gerakan sosial yang mengartikulasikan kepentingan kelompok priyayi nonbirokrat lokal. Pemicunya adalah disharmoni antara priyayi nonbirokrat–didominasi dokter–dan priyayi birokrat.

Karena itu, kemunculan Boedi Oetomo sebenarnya lebih didorong oleh keinginan ‘menolong diri sendiri’ para dokter Jawa itu yang merasa berada lebih rendah dibanding priyayi birokrat. ”(Dengan) gambaran ini, sulit (Boedi Oetomo) dianggap sebagai perintis Kebangkitan Nasional,” kata Ismail.

Memang, kata dia, ada keinginan dari sebagian tokoh Boedi Oetomo untuk memperluas perjuangan, tak hanya untuk priyayi Jawa. Kalangan ini kebanyakan merupakan tokoh muda kala itu, misalnya Soewarno yang mengusulkan perbaikan pendidikan untuk seluruh Hindia Belanda, tapi tak digubris.

Bahkan, Wahidin Sudirohusodo dalam pidatonya saat membuka kongres organisasi ini pada Oktober 1908, kata Ismail, sangat mengagungkan sejarah Jawa dan menekankan pentingnya pendidikan Barat bagi kemajuan Jawa. Hal itu khususnya ditujukan bagi kaum priyayi, bukan untuk rakyat desa kebanyakan. Anggaran dasar organisasi Boedi Oetomo pun secara tegas dalam pasal 2 menyatakan perjuangan mereka hanya ditujukan bagi orang Jawa dan Madura.

Berbeda dengan Boedi Oetomo, papar Ismail, SI lebih menasional dengan menerima keanggotaan dari semua kalangan. Tergambar dari tokohnya, yang berasal dari beragam suku bangsa. Misalnya, ada Abdoel Moeis dari Sumatra Barat dan AM Sangaji dari Maluku.

Pada 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700 ribu anggota. Angka ini melonjak menjadi dua juta orang pada 1919. Sedangkan Boedi Oetomo, kata Ismail, pada masa keemasannya hanya memiliki anggota 10 ribu orang.
(ann )

Sumber : Republika

Iklan

About batubaranews

Info-Info MEMBARA !!

Diskusi

3 thoughts on “Gerakan Islam Dinilai Pembangkit Nasionalisme

  1. kenapa sungai? aku terobsesi saja? waktu kecil, aku suka mandi di sungai berair jernih. di sana juga banyak ikan. entahlah kini. maka hobi masa kanakku adalah memancing. ini jawabanku pertanyaanmu di blogku. salam.

    Posted by Panda | Minggu, 25 Mei 2008, 11:09 pm
  2. semoga indonesia benar2 bangkit

    Posted by hanggadamai | Selasa, 27 Mei 2008, 7:09 am
  3. Somehow i missed the point. Probably lost in translation 🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Computation!

    Posted by Computation | Jumat, 20 Juni 2008, 7:27 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klik tertinggi

  • Tidak ada
%d blogger menyukai ini: