MEDAN–MICOM: Tenunan tradisional berupa kain songket asal Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, tidak hanya dikenal di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Makassar, tetapi juga sangat diminati di Malaysia.
“Kain songket yang cukup terkenal ini memiliki corak tersendiri,” kata staf penjaga anjungan pameran Kabupaten Batu Bara, Nur Ainun, di Pekan Raya Sumatra Utara (PRSU) di Medan, Rabu (23/3).
Menurut Ainun, warga Malaysia tertarik kerajinan songket Batu Bara karena motif tenunan asal daerah tersebut memiliki nilai seni budaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, katanya, songket Batu Bara itu banyak dipesan orang Malaysia atau mereka langsung datang ke Medan maupun ke Kabupaten Batu Bara untuk membeli barang tersebut.
“Songket Batu Bara itu juga memiliki berbagai jenis warna, seperti merah jambu, hijau laut, kuning, merah hati, krem, merah muda, dan kombinasi warna menarik lainnya,” ujarnya.
Selain Malaysia, katanya menjelaskan, songket Batu Bara ternyata juga sudah mulai menembus pasar Singapura, Brunai Darussalam, dan berbagai negara lainnya di Asia Tenggara.
Dia mengatakan songket Batu Bara sudah cukup lama dikenal, sebelum adanya pemekaran kabupaten Asahan. “Dulunya Batu Bara ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Asahan, tetapi saat ini sudah menjadi Kabupaten Batu Bara,” katanya.
Dia mengatakan, setelah Batu Bara menjadi kabupaten baru, diharapkan pengembangan songket asal daerah tersebut semakin cepat dan lebih maju lagi. “Saya yakin prospek songket Batu Bara ini kedepan lebih cerah dan semakin baik. Yang penting, Pemerintah Kabupaten Batu Bara tetap memperhatikan hasil kerajinan tangan-tangan terampil itu,” jelas Ainun.
Ketika ditanya berapa harga kain songket itu, Ainun mengatakan, harganya bervariasi dari mulai terendah Rp500.000, Rp1 juta, Rp2 juta dan bahkan ada yang mencapai Rp5 juta per lembar.
Menurut dia, harga tenunan songket yang mencapai Rp5 juta itu karena kainnya terbuat dari sutera. “Kalau yang menengah ke bawah kainnya biasa, tetapi benangnya terbuat dari benang perak dan benang emas. Jadi wajar saja harganya relatif tinggi. Ini juga karena harga benang untuk songket itu saat ini cukup mahal,” katanya.
Dia menjelaskan, proses pembuatan kain songket ini masih menggunakan alat yang namanya “Okek” (alat tenun terbuat dari kayu dan masih masih tradisional). Alat yang namanya Okek itu kini sangat langka sebab.
“Alat tenun Okek ini masih tetap digunakan pengrajin songket Batu Bara dan hasilnya tidak kalah dengan songket yang dihasilkan ATBM atau memakai mesin yang serba canggih saat ini,” kata Ainun.
Kabupaten Batu Bara terdiri dari tujuh kecamatan, 98 desa dan tujuh kelurahan dengan luas cakupan wilayah 92.220 hektare. Kabupaten Batu Bara memiliki potensi kekayaan alam, antara lain potensi bidang perkebunan, pertanian, perikanan dan kelautan, peternakan, dan potensi pariwisatanya.
Bahkan, Batu Bara telah lama dikenal dunia internasional sebagai pengespor aluminium hasil olahan PT Inalum. Nama Batu Bara sendiri berasal dari sebuah batu di pedalaman (saat bernama Desa Kuala Gunung) yang konon pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi. (Ant/OL-2)
Bravo Batu Bara..kalau produk ondak copat terkenal, jago mutu,bikin iklan,harga cocok,siapkan tukang/pekerja yg mencukupi.
Posted by John | Minggu, 24 April 2011, 12:09 amGood Indonesia makin terkenal
Posted by ERP Software | Kamis, 21 Juli 2011, 10:44 amAwas, nanti di Klaim Lagi sama Malon…
Awalnya Di minati, Lalu di Pelajari, akhirnya Ngaku Diri deh…..
Posted by Ider | Rabu, 3 Agustus 2011, 12:04 pmsip, jauhkan malay dari SDA indonesia… merdeka
Posted by Baju Wanita | Senin, 8 Agustus 2011, 10:03 amnice
Posted by Rumah | Kamis, 29 September 2011, 2:25 pmcintailah produk dlm negeri sendiri…
Posted by Dokter Anak | Rabu, 26 Oktober 2011, 4:21 pmtanda warning tuh buat indonesia….
Posted by Kontraktor | Rabu, 7 Desember 2011, 1:19 pm