Gerakan Islam Dinilai Pembangkit Nasionalisme
Ditulis oleh batubaranews di/pada Minggu, 25 Mei 2008
JAKARTA — Islam, dalam catatan sejarah, merupakan pembangkit nasionalisme di Indonesia. Atas dasar ini, Dialog Peradaban yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) pimpinan Syahganda Nainggolan, mempersoalkan kembali gerakan Boedi Oetomo sebagai patokan Kebangkitan Nasional.
Dalam dialog tersebut diungkapkan bahwa Sarekat Islam (SI)–peralihan dari Sarekat Dagang Islam–lebih tepat menjadi tolok ukur Kebangkitan Nasional. ”Perlu pelurusan sejarah, dengan kajian akademis yang objektif, mengenai peran Sarekat Dagang Islam,” kata Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Ahmad Suhelmi, sebagai salah satu pembicara, di Jakarta, Kamis (22/5).
Mengutip George Mc Turner Kahin, menurut Suhelmi, Islam telah menjadikan nasionalisme Indonesia menjadi unik jika dibandingkan dengan nasionalisme di belahan dunia lain. Islam pula yang menjadi simbol perlawanan pribumi terhadap kolonialisme Belanda.
Sementara itu, Boedi Oetomo, kata Suhelmi, adalah organisasi yang lebih menunjukkan sifatnya yang ‘Jawa sentris’ daripada watak nasionalistik. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, mengutip tesis Savitri Scherer, menggambarkan bahwa Boedi Oetomo adalah gerakan sosial yang mengartikulasikan kepentingan kelompok priyayi nonbirokrat lokal. Pemicunya adalah disharmoni antara priyayi nonbirokrat–didominasi dokter–dan priyayi birokrat.
Karena itu, kemunculan Boedi Oetomo sebenarnya lebih didorong oleh keinginan ‘menolong diri sendiri’ para dokter Jawa itu yang merasa berada lebih rendah dibanding priyayi birokrat. ”(Dengan) gambaran ini, sulit (Boedi Oetomo) dianggap sebagai perintis Kebangkitan Nasional,” kata Ismail.
Memang, kata dia, ada keinginan dari sebagian tokoh Boedi Oetomo untuk memperluas perjuangan, tak hanya untuk priyayi Jawa. Kalangan ini kebanyakan merupakan tokoh muda kala itu, misalnya Soewarno yang mengusulkan perbaikan pendidikan untuk seluruh Hindia Belanda, tapi tak digubris.
Bahkan, Wahidin Sudirohusodo dalam pidatonya saat membuka kongres organisasi ini pada Oktober 1908, kata Ismail, sangat mengagungkan sejarah Jawa dan menekankan pentingnya pendidikan Barat bagi kemajuan Jawa. Hal itu khususnya ditujukan bagi kaum priyayi, bukan untuk rakyat desa kebanyakan. Anggaran dasar organisasi Boedi Oetomo pun secara tegas dalam pasal 2 menyatakan perjuangan mereka hanya ditujukan bagi orang Jawa dan Madura.
Berbeda dengan Boedi Oetomo, papar Ismail, SI lebih menasional dengan menerima keanggotaan dari semua kalangan. Tergambar dari tokohnya, yang berasal dari beragam suku bangsa. Misalnya, ada Abdoel Moeis dari Sumatra Barat dan AM Sangaji dari Maluku.
Pada 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700 ribu anggota. Angka ini melonjak menjadi dua juta orang pada 1919. Sedangkan Boedi Oetomo, kata Ismail, pada masa keemasannya hanya memiliki anggota 10 ribu orang.
(ann )
Sumber : Republika
Entri ini dituliskan pada Minggu, 25 Mei 2008 pada 9:47 am dan disimpan dalam Info Bara. Bertanda: Abdoel Moeis, AM Sangaji, Boedi Oetomo, Harkitnas, Islam, Kebangkitan Nasional, priyayi, Sarekat Islam, SI, Wahidin Sudirohusodo. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.





Panda berkata
kenapa sungai? aku terobsesi saja? waktu kecil, aku suka mandi di sungai berair jernih. di sana juga banyak ikan. entahlah kini. maka hobi masa kanakku adalah memancing. ini jawabanku pertanyaanmu di blogku. salam.
hanggadamai berkata
semoga indonesia benar2 bangkit
Computation berkata
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Computation!