Hidayat Pilih Diana, Bukan Mega
Ditulis oleh batubaranews di/pada Rabu, 14 Mei 2008
IWAN ULHAQ PANGGU
INILAH.COM, Jakarta – Hidayat Nur Wahid sempat disambangi Megawati Soekarnoputri. Dalam bingkai politik, momen itu dianggap sebagai pendekatan menuju Pemilu 2009. Faktanya, Hidayat pilih meminang Diana Abbas Thalib.
Benar tidaknya anggapan sambangan Mega kepada Hidayat terkait proses membangun kekuatan menjelang Pemilu 2009, hanya mereka berdua yang paling tahu. Yang santer terdengar, kubu PDI-P pimpinan Mega memang coba berkoalisi dengan parpol berbasis Islam.
Artian lain, Mega yang sudah ditetapkan segenap komponen PDI-P sebagai calon presiden untuk diajukan dalam Pemilu 2009, dikabarkan membidik figur dari parpol berbasis Islam sebagai calon pendampingnya.
Hidayat, Ketua MPR-RI yang juga mantan Presiden PKS, terkesan enggan menanggapi perhitungan seperti itu. Banyak pengamat politik pun menyatakan kecil kemungkinan Hidayat dan PKS mau disunting Mega dan PDI-P.
Yang jelas, setelah dari Hidayat, Mega sendiri kemudian menyatroni Dien Syamsuddin selaku Ketua PP Muhammadiyah. Momen itu juga diwacanakan beberapa pihak sebagai bagian dari upaya Mega mencari pendamping.
Lepas dari rumor politik itu, yang sudah pasti adalah Hidayat menjatuhkan pilihan hatinya kepada Diana. Keduanya, bahkan, Minggu (11/5) resmi menyatukan diri dalam mahligai perkawinan.
Resepsi digelar di Sasono Langgeng Budoyo Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Seabrek tokoh penting, pejabat, politisi, selebriti, dan tetamu dari berbagai kalangan tumplek blek menyambutnya.
Kedua mempelai menggandeng Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres M Jusuf Kalla sebagai saksi pernikahan. SBY jadi saksi mempelai pria, JK sebagai saksi mempelai wanita.
Pertautan cinta kasih Hidayat-Diana sendiri terbilang singkat. Selang beberapa bulan sepeninggal mendiang istrinya, Hidayat dipertemukan dengan Diana oleh salah satu anggota PKS.
Setelah bertukar biodata dan tiga kali bertatap muka, lamaran pun digelar. Menurut Diana, Hidayat membutuhkan figur istri. Lalu, anak-anaknya pun sangat membutuhkan figur ibu.
Maka, jadilah Hidayat dan Diana melebur sebagai suami-istri yang sah secara hukum. Hidayat naik pelaminan dengan status duda beranak empat dan Diana adalah janda beranak satu.
Bicara karir, Hidayat dan Diana sama-sama menyandang prestasi yang terbilang mengkilap. Hidayat adalah Ketua MPR-RI, Diana adalah dokter sekaligus Direktur RS Ibu dan Anak Bunda Aliyah, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Diana berjanji akan memperlakukan keempat anak Hidayat seperti anak-anaknya sendiri. “Cerita ibu tiri negatif itu hanya ada di film. Faktanya, banyak ibu tiri sangat menyayangi anak-anak tirinya seperti anak-anak kandungnya. Paradigma itu harus diluruskan,” ujar Diana.
Diana mengaku belum berpikir jauh, termasuk soal suaminya bakal diusung sebagai calon presiden dalam Pemilu 2009. Ia hanya menegaskan, tugas pertama dan utamanya adalah mendukung Hidayat sebagai suami.
“Sampai saat ini, kami tidak terlalu berpikir soal-soal politik. Saya hanya ingin menjalankan fungsi saya sebagai istri sebaik-baiknya dan ibu yang baik bagi anak-anak kami. Saya akan mendukung suami dalam suka maupun duka,” ungkap Diana.
Sejak dilamar Hidayat, menurut Diana, kehidupannya memang berjalan agak ‘aneh’ . Maksudnya, tentu, karena ia jadi supersibuk. Juga jadi figur yang terus diburu wartawan, satu hal yang tak pernah ia bayangkan.
Tentang awal perkenalan dengan Hidayat, Diana mengisahkan bahwa semua berawal dari guru mengajinya, Yoyoh Yusroh. Yoyoh, yang juga teman Hidayat dan Wakil Ketua Komisi VII DPR-RI, berperan sebagai mak comblang.
Kini, Hidayat dan Diana sudah resmi sebagai suami-istri. Juga sebagai ayah-bunda dari lima orang anak. Kini, sampaikan saja dulu ucapan ’selamat mengarungi kehidupan baru, semoga langgeng dalam kebersamaan dan kebahagiaan’ bagi mereka.
Soal gadang menggadang figur menuju Pemilu 2009? Tutup buku dulu. Beri kesempatan, khususnya kepada Hidayat, menikmati bulan madunya bersama Diana.











Kamis, 15 Mei 2008 pada 9:15 am
Hehehe…beda dong Lae perkawinan dengan “perselingkuhan” politik.
aku minta izin menitipkan link mengenai kabar duka dari kampung halaman :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/15/adi-sitompul-pasien-gizi-buruk-asal-tapteng-meninggal-dunia/
Mauliate
Raja Huta
Sabtu, 17 Mei 2008 pada 5:20 pm
kita lihat saja nanti apakah HDNW apakah maju sebai presiden…
kalau untuk wakil saya rasa jangan deh…
Sabtu, 17 Mei 2008 pada 5:22 pm
kita lihat saja nanti apakah HDNW apakah maju sebai presiden…
kalau untuk wakil saya rasa jangan deh…